Pulang Kampung

Angin bertiup sepoi-sepoi di bawah pohon yang teduh. Di bawah pohon tersebut, sebuah sendang yang besar menjadi tempat tiga wanita yang sudah berkeriput menggosok kain-kain yang basah dengan biji lerak. Sedikit busa yang keluar dari biji-biji tersebut, membersihkan kain-kain jarit itu dengan baik.

“Idul Adha besok ada yang pulang kampung, Nah?”

Sarinah tersenyum. “InsyaAllah, Yu Mar, seperti biasa. Kemarin Nadin bilang ke saya, Santi WA, titip pesan ke saya. Katanya, mau pulang, tapi setelah suaminya selesai nyembelih kurban di Masjid Raya.”

“Wah, senang ya, nanti ramai, ada cucu-cucu yang datang,” Sumarni menimpali.

“Alhamdulillah, Yu. Kalau di rumah Yu Mar ramai terus, kan anak-anak di rumah semua,” kata Sarinah.

“Tidak juga, Nah. Anak-anak sudah besar-besar semua, pada sibuk urusan masing-masing. Yayan sekarang kerjanya sudah berangkat kantor, tidak onlen lagi. Pulang kerjanya selalu bada Isya. Maghrib-an dulu di kantor,” kata Sumarni.

“Ya wajar, Yu. Kantornya kan jauh di kota. Kalau pulang mepet maghrib, pasti habis di jalan waktu maghribnya,” kata Sarinah.

“Ah, Yayan itu, yang dipikir urusan kantor terus. Lha kapan saya mau nimang cucu. Seperti anak-anaknya Santi kan lucu-lucu,” keluh Sumarni dengan sedikit manyun.

“Ya, sabar, Yu. Kalau sudah jodoh, pasti bertemu. Kalau Yayan kan laki-laki, mungkin mau main-main dulu, kalau pilih-pilih yang benar dulu. Singgih, anak laki-laki saya yang pertama itu dulu juga lama nikahnya. Alhamdulillah, nikah juga,” kata Sarinah.

“Kalau Nadin kuliahnya masih onlen, Yu? Belum liburan? Kok tidak pernah kelihatan keluar-keluar?” tanya Sundari.

“Iya, Yu, Nadin sudah liburan. Tapi ya kerjanya di kamar terus. Ngetik terus di depan laptop. Katanya, mumpung liburan ikutan komunitas wa-wa-.. Apa gitu,” jawab Sumarni masih dengan wajah manyun.

Komunitas one-day-one-post, Mah.” Tiba-tiba Nadin datang menghampiri mereka bertiga. Pakaiannya modis dan rapi, lengkap dengan sepatu slip-on kekinian. “Biar Nadin bisa jadi penulis, Mah. Biar bisa kerja dari rumah. Nemenin Mamah. Kan, katanya Mamah kesepian kalau ditinggal kerja.”

“Kalau kerja di rumahnya di kamar terus ya sama saja, Mamah kesepian to, Din,”sanggah Sumarni dengan nada manja.

“Iya, deh, maaf. Nanti Nadin ngetiknya di luar kamar, sambil nemenin Mamah,” Nadin tersenyum melihat tingkah Mamahnya. “Mah, Nadin pamit dulu, ya. Nadin mau berangkat ke seminar di kota. InsyaAllah pulangnya bada isya bareng Mas Yayan.”

“Iya, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa bawa payung, kalau-kalau nanti hujan,” kata Sumarni.

“Sudah dibawa kok, Mah. Ini di dalam tas,” jawab Nadin. Kemudian Nadin beralih kepada Sundari. “Eh, iya, Budhe Sun, tadi ada WA dari Mas Fajar. Titip pesan ke Budhe, katanya mohon doanya Idul Adha ini insyaAllah pulang kampung.”

“Alhamdulillah, terima kasih, ya, Nadin. Semoga Allah kabulkan insyaAllah,” kata Sundari. Matanya yang tadinya sayu tiba-tiba bersinar.

“Nadin pamit pergi dulu ya, Mamah, Budhe, Bulik.” Nadin pun membungkuk sambil beranjak pergi.

“Iya, hati-hati.” Kata ketiga wanita itu bersama-sama.


—-----------------------------------


“Alhamdulillah ya, Yu. Fajar akhirnya mau pulang kampung. Sudah berapa tahun dia tidak pulang kampung ya?” kata Sarinah kepada Sundari.

“Sudah sejak korona-korona itu bukan sih?” tambah Sumarni.

“Iya, kira-kira sudah dua tahun lebih tidak pulang. Maklumlah, karena kerjanya di rumah sakit, ya, begitu ada penyakit merajalela, harus rela tidak pulang kampung dulu, melayani orang-orang sakit dulu,” jawab Sundari. “Memang sudah jadi wasiat almarhum bapaknya dulu.”

Sundari pun menatap cucian kainnya dengan sendu. Pikirannya melayang ke masa-masa sang suami duduk di kursi kayu di teras rumahnya, sambil menikmati teh tubruk kental yang panas. Anak semata wayangnya, Fajar, duduk santai di lantai di depan ayahnya, memandangi langit sore yang telah merona jingga. Pada setiap sore mereka dapat berkumpul itulah, sang suami akan memberikan wejangan-wejangan kepada sang anak.

“Nak, Bapak Ibumu ini, tidak perlu apa-apa darimu. Kami tidak butuh hartamu, tidak butuh menantu-cucu darimu. Cukup doakan kami saja. InsyaAllah Allah selamatkan kami dunia akhirat. Gunakan waktumu selebihnya untuk memberikan manfaat bagi umat manusia,” begitulah ucap suaminya kala itu.

Kata-kata yang pada waktu itu, ia iyakan dengan senyuman kesungguhan. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini ada sesuatu di dalam dirinya seolah-olah menuntut ‘hak’ menerima ‘jatah’ perhatian dari sang anak. Seperti Mamah Nadin, ia kini sendirian dan kesepian.


—---------------------------


Hari Arafah.

Sundari terbangun sebelum gelapnya langit berubah warna. Setelah doa diucapkannya, ia pun memaksa sendi-sendinya yang sudah sering nyeri di pagi hari, agar dapat membuat dirinya beranjak dari kasurnya. Menahan nyeri, ia menuju ke dapurnya, dimana makan sahur telah ia siapkan untuk dirinya sendiri. Lebih tepatnya, makanan sisa kemarin malam. Karena makanan, yang telah ia siapkan untuk sang anak, tak menemui tuannya juga. Untuk kesekian kalinya, ia makan sahur sendirian dalam temaramnya lampu dapur.

Sudah beberapa hari ia menunggu suara ketukan di pintu, berharap hari itulah yang ia tunggu-tunggu. Nadin pun tak bisa menjawab, kapan tepatnya Fajar akan datang. “Maaf, Budhe. Setelah WA terakhir itu, Mas Fajar tidak bisa dihubungi lagi, Budhe,” begitu jawabnya.

Hari ini adalah hari terakhir sebelum Idul Adha. Haruskah ia tetap membumbungkan harapan? Ataukah ia harus mulai mengikhlaskan?

“Mungkin masih sibuk mengurus orang-orang sakit di rumah sakit. Kalau sudah selesai urusannya pasti datang,” jawabnya ketika ada Sarinah atau Sumarni menanyakan perihal Fajar.

“Mungkin datangnya setelah penyembelihan kurban. Santi kan juga begitu,” jawabnya di waktu yang lain.

“Kalau tidak besok, ya lusa, atau tulat, insyaAllah.”

Entah ucapan itu ia ucapkan untuk menjawab rasa penasaran orang lain, entah untuk menentramkan hatinya sendiri.

Cahaya yang masuk melalui sela-sela dinding kayu di dapurnya memproyeksikan garis-garis kemerahan di dinding di lantai tanah. Setiap fajar yang datang selalu membawa keceriaan baginya. Seakan-akan seberkas cahaya merah mentari telah cukup mewakili hadirnya sang putra terkasih, anugerah Tuhan yang datang ketika fajar menyingsing.

Sundari telah melupakan beratnya mengandung Fajar. Telah ia lupakan pula sakitnya persalinan. Tangisan sang jabang bayi, yang telah ia dan suaminya nantikan selama bertahun-tahun yang berat, telah menghapus semuanya. “Ya Allah, jadikanlah ia anak yang selalu memohonkan ampunan-Mu bagi kami. Jadikanlah ia anak yang sholih,” begitulah pintanya kala itu.

“Ah, mungkin datangnya hari ini,”batinnya.

Dadanya kini penuh dengan harapan. Jika Tuhan kabulkan doanya yang dulu, pasti akan kabulkan juga doanya yang sekarang.

Dituangkannya tepung ararut ke dalam mangkuk. Ini adalah semangkuk tepung terakhir.

Kesekian kalinya dalam minggu ini, ia membuatkan makan kecil kesukaan Fajar, ongol-ongol. Semuanya berakhir dikirimkan ke tetangga-tetangganya, karena Fajar tak juga datang.

Resep ini sudah diluar kepala, baginya. Mudah saja. Sundari sudah sering sekali membuatnya semenjak dia kecil. Ibunya lah yang waktu itu langsung mengajarkannya. Hanya perlu kesabaran dalam mengaduk adonan hingga mendapatkan kekentalan yang diinginkan.


—-------------------------------------------


Sundari duduk termenung di depan jendela. Matahari telah mulai turun, ke balik bukit. Sebentar lagi, takbir akan berkumandang. Sedangkan ongol-ongol masih utuh tak tersentuh di atas meja.

Sundari menghela napas. Beranjaklah ia dari tempat duduknya. Menutup jendela. Merapikan kain jarit dan kerudungnya. Lalu mengambil sepiring ongol-ongol itu, dan membuka pintu. Langkahnya pelan mengarah ke rumah Sumarni.

Diketuknya pintu.

“Assalamu’alaykum.”

Nadin berdiri di hadapannya.

“Ini Nadin, ada ongol-ongol lagi, untuk buka puasa, ya.”

Nadin tersenyum meringis. Ini sudah piring keenamnya minggu ini.


TAMAT

0 Komentar