Hikmah dari Apoptosis, Kanker, dan Kematian

Assalamu’alaykum, Tetangganet! Tulisan nonfiksi apa yang terakhir kali Tetangganet baca? Hari ini saya mendapatkan sebuah tantangan dari OPREC ODOP untuk menyusun review suatu karya nonfiksi. Hmm.. Dalam waktu yang singkat ini, karya apa yang bisa saya review ya?


Untuk memenuhi tantangan tersebut, saya ingin mengulas suatu artikel ilmiah populer berjudul “Apoptosis, Kanker, dan Kematian”, yang ditulis oleh Kafa Bihi. Kafa Bihi adalah seorang alumnus Fakultas Biologi ITB yang sedang melakukan studi master di jurusan Molecular Life Science di University of Bern, Swiss. Ia juga merupakan seorang asisten peneliti di IMERI FKUI. Artikel ini dimuat dalam majalah Mata Air Nomor 34 Volume 9 Tahun 2022.

Penulis mengawali artikel dengan mengajak kita membayangkan kembali masa-masa kita sekolah dulu, ketika kita mempelajari tentang sel pada makhluk hidup. Sel adalah bagian terkecil yang menyusun tubuh kita yang ukurannya sangat kecil. Sel selalu diciptakan seiring dengan pertumbuhan kita, sejak dari sel telur yang dibuahi, hingga membelah menjadi segumpal darah, janin, bayi sempurna, anak-anak, hingga kita menjadi dewasa.

Namun, sebagaimana makhluk hidup lain, sel-sel tersebut akan mengalami ajalnya, yaitu mati. Ada sel yang mati karena hancur ketika kita melakukan aktivitas dan ada sel yang mati karena kekurangan nutrisi. Uniknya, bahkan jika sel tidak mendapatkan gangguan sedikit pun, sel tersebut memiliki sebuah ‘program’ kematian. Ketika sudah ajalnya, maka sel tersebut akan mati dengan sendirinya. Kematian ‘terprogram’ ini disebut dengan apoptosis.

Apakah apoptosis berbahaya? Tidak. Justru ia adalah hal yang penting bagi kelangsungan makhluk hidup. Coba bayangkan jika seluruh sel tidak ada yang mati. Tentunya akan banyak ruang yang diperlukan bagi sel-sel tersebut, dan banyak sekali energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup makhluk tersebut.

Jika suatu sel kehilangan sifat apoptosinya, maka dia berubah menjadi sel kanker! Dia akan terus tumbuh, mengambil nutrisi dan energi yang berlebihan, dan mengganggu metabolisme tubuh. Alih-alih memberikan manfaat, sel ini berubah menjadi sel berbahaya.

Penulis selanjutnya menjelaskan mekanisme apoptosis yang sangat kompleks, bagaimana sel normal bisa berubah menjadi sel kanker, dan bagaimana para ahli berusaha menemukan cara agar sel kanker dapat mendapatkan kembali sifat apoptosisnya sehingga bisa menjadi salah satu cara terapi kanker.

Bagian paling menarik dari karya ini menurut saya adalah di bagian akhir, ketika penulis merenungkan hikmah di balik apoptosis.

“Mengapa mati begitu rumit, bahkan untuk sel yang sangat kecil?... Mungkin Tuhan menciptakan kematian sebegitu rumitnya agar manusia mengapresiasi kehidupan..”


Kata-kata penulis pun beresonansi dengan apa yang saya pikirkan akhir-akhir ini mengenai hari tua.

“Kematian adalah yang niscaya. Menua adalah hal yang niscaya. Sesehat apapun manusia.”

Penulis pun mengutip ayat Al Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 185:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”

Selanjutnya penulis juga memberikan nasihat bagi pembacanya untuk menjalani hidup secara benar dan bermanfaat bagi yang orang lain, serta mengambil hikmah dari berbagai fenomena alam yang ada di sekitar kita.


Walaupun materi yang diambil oleh Kafa Bihi terdengar begitu berat pada awalnya, penulis berhasil membawakan materi tersebut dengan ringan, sehingga mudah dipahami oleh pembacanya, walaupun bukan dari kalangan peneliti sains molekuler. Tulisan ini pun dilengkapi dengan gambar dan diagram yang dapat memvisualisasikan proses tersebut sehingga dapat dipahami dengan lebih mudah. Dan tentunya banyak hikmah yang dapat diambil dari apa yang telah disampaikan oleh penulis.

Saya berharap ada lebih banyak lagi para peneliti yang menulis artikel ilmiah populer dan mengajak kita untuk berpikir dan mengambil makna. Tetangganet tentu setuju bukan? Sekian dari saya. Wassalamu’alaykum.

6 Komentar

  1. Senangnya mampir ke sini, jadi tahu ilmu baru^^
    SUka banget bagian "Mengapa mati begitu rumit, bahkan untuk sel yang sangat kecil?... Mungkin Tuhan menciptakan kematian sebegitu rumitnya agar manusia mengapresiasi kehidupan..”
    Habis baca postingan ini jadi penasaran sama original artikelnya, langsung caww!

    BalasHapus
  2. Setuju sih kalau artikel ilmiah dikemas dalam bentuk yang menarik, yang jadi PR adalah menarik minat membaca masyarakat :(

    BalasHapus
  3. Menarik sekali kak. Hanya baca reviunya saja nih sudah semenarik ini. Mudah ditemukan nggak ya majalah Mata Air?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa daftar berlangganan di website mataair.co Kak. Saya sudah berlangganan selama bertahun-tahun. Banyak artikel ilmiah populer yang menarik.

      Hapus
  4. Ya Allah, ternyata Allah juga mempersiapkan kematian dengan sel-sel yang punya manfaat besar bagi manusianya. Aku baca kutipannya ngerasa kepukul banget. :"

    BalasHapus
  5. Menarik sekali bukunya, kak Nia. Membacanya membuat saya mendapatkan banyak insight baru tentang kanker. Bahkan sel sekecil kanker di dalam tubuh kita diatur sedemikian oleh Allah ya kak

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar, tapi bukan link hidup ya