Catatan Idul Adha 1447 H : Satu Hari Penuh Syukur Dalam Hidupku

 

Catatan Idul Adha 1447 H


Rabu, 27 Mei 2026 atau 10 Dzulhijjah 1447 H. Umat Muslim merayakan hari raya terbesarnya, yaitu Idul Adha. Begitu juga dengan kami. Hari ini kami menyembelih seekor sapi sebagai kurban. Atau lebih tepatnya, satu RT menyembelih 3 ekor sapi bersama-sama.

Hari dimulai dengan shalat Idul Adha. Pagi-pagi sekali kami sekeluarga berangkat ke sebuah lapangan di kecamatan sebelah untuk melaksanakan ibadah shalat Id.

Malam sebelumnya, Ibu sudah menekankan agar kami langsung mandi begitu azan Subuh berkumandang, agar kami tidak terlambat untuk acara shalat Idul Adha mengingat lokasi shalat lumayan jauh dan harus ditempuh menggunakan mobil.

Kami tidur awal agar besok tidak bangun kesiangan. Kami memang beranjak ke kamar tidur lebih awal, tapi pada kenyataannya malah saya tidak bisa tidur nyenyak. Beberapa kali saya terbangun dan mengecek jam. Khawatir jikalau nanti kesiangan.

Nyatanya, sebelum subuh saya sudah bangun. Mendirikan shalat tahajud, lagi bersiap-siap, bersih diri dan berpakaian rapi. Saya melihat Bapak dan Ibu juga bangun sedari tadi. Bapak sudah mandi sebelum saya. Ibu sudah menyiapkan sarapan, dari sisa nasi kemarin malam yang saya bawa.

Alhamdulillah, adik-adik juga mudah sekali dibangunkan. Malahan, kami selesai bersiap-siap terlalu pagi. Seusai shalat subuh, kami berangkat menuju lokasi shalat. Mas mengemudikan mobil dengan pelan meskipun jalanan sangat lengang. Kami tidak mau tiba terlalu awal.

Sesampainya di lapangan, para panitia masih menyiapkan tempat shalat. Kami rombongan jamaah pertama yang hadir. Alhamdulillah, setelah itu, kami bertemu dengan ibu guru adik saya yang masih TK. Langsung kami buat satu barisan.

Shalat berlangsung dengan khidmat. Imam membacakan Al Fatihah dengan nada khas Syekh Mishary Rashid Al-Afasy. Potongan surat yang dibacakan setelahnya juga sangat indah. Namun, sayang sekali, saya tidak tahu surat apa itu. Pokoknya, sepenangkapan saya, yang sering disebut-sebut orang-orang kafir saja. Memang alangkah lebih baiknya jika bisa hafal Al Quran dan mengerti bahasa Arab. Jadi, ketika imam membacakan ayat-ayat Allah, rasanya lebih meresap ke akal dan kalbu.

Khotib memberikan khutbah dengan menggebu-gebu. Pesan yang disampaikan kali ini adalah tentang ketaatan keluarga Ibrahim kepada perintah Allah, bahkan pada situasi terberat sekalipun. Sebuah tema yang sering sekali dibahas di setiap khutbah Idul Adha. Tapi kali ini, khotib berhasil membawa saya masuk ke dalam ceriteranya.

Sepulang dari shalat Idul Adha, kami bersiap-siap bergabung dengan warga RT lainnya untuk menyembelih kurban. Bapak dan Mas memakai kaos panitia. Saya dan Ibu memakai celemek dan membawa pisau. Adik-adik siap-siap bermain dan menonton saja.

Di area penyembelihan, para warga sudah hadir. Kegiatan diawali dengan doa dan sarapan bersama. Tahun ini, sarapannya soto ayam. Sehari sebelumnya, warga menangkap beberapa ayam liar dan memasaknya menjadi soto yang sangat sedap. Meskipun sudah sarapan di rumah, saya menyantap lagi seporsi soto tanpa nasi bersama Mas.

Segera setelah sarapan, sapi dibawa ke area penyembelihan. Takbir berkumandang seiring tumbangnya mereka satu per satu. Ibu-ibu warga RT sudah siap duduk di atas terpal biru dengan pisau dan talenan yang terbuat dari batang pohon asem. Saya bersiap di samping Ibu.

Catatan: Sebagian dari tulisan di bawah ini mungkin menyebabkan perasaan tidak nyaman bagi Anda. Silakan skip ke paragraf terakhir jika Anda tidak merasa nyaman.

Lalu datanglah bagian kaki pertama. Seorang ibu menyambutnya dengan kapak di tangan. Seorang ibu lain membantu mengiris daging sapinya lepas dari tulangnya. Daging pun ditimbang. Alhamdulillah, daging kali ini sangat berkualitas. Dagingnya merah segar, kesat, dan minim lemak.

Lalu datang kaki kedua. Saya membantu memegangi ujung kakinya, dan seorang ibu lain memisahkan daging dari tulangnya. Lalu kami potong sesuai ukurannya akan dibagikan. Kami bekerja sambil bercengkerama. Seru sekali.

Kemudian datanglah bagian-bagian lainnya. Para ibu langsung bergotong royong mengerjakannya. Tidak ada yang berpangku tangan. Begitu ada pekerjaan, langsung disambut dengan gembira.

Lalu, bapak-bapak, yang sudah selesai dengan penyembelihan dan pembersihan, datang membantu untuk memotong tulang dengan kapak. Ya, di desa kami belum ada mesin potong tulang seperti tempat saya bekerja dulu. Semua masih menggunakan tenaga manusia.

Semua bagian sapi dimanfaatkan. Tidak ada yang bersisa. Tidak satu tanduk pun. Dari tiga sapi tersebut, kami berhasil membuat 21 paket untuk pekurban dan 292 paket untuk dibagikan ke warga. Ketika azan Dhuhur berkumandang, kami menyelesaikan pekerjaan kami. Alhamdulillah, kami pulang dengan gembira.

Namun, pekerjaan tidak berhenti sampai di situ. Di rumah, masih banyak yang harus dilakukan. Setelah membersihkan diri dan shalat Dhuhur, Bapak dan Ibu pergi ke desa Pakdhe untuk membagikan daging kurban. Oom dan Pakdhe lain juga datang ke rumah untuk mengambil beberapa bagian. Sementara itu, saya dan Mas mengurus daging jatah untuk di rumah, memasukkannya ke dalam wadah plastik yang lebih kecil sesuai porsi memasak, dan memasukkannya ke dalam freezer. Tak lama setelah pekerjaan kami selesai, Ibu datang dan memasakkan tongseng daging kesukaan Mas. Sebagian untuk dimakan saat itu juga. Sebagian lagi untuk dibawa ke Semarang.

Setelah itu, saya dan Mas berangkat ke rumah mertua. Giliran kami menginap di sana. Esoknya, saya membantu ibu mertua membuat bakso. Alhamdulillah, tahun ini bakso kami berhasil dan bisa dibagikan ke semua saudara.

Alhamdulillah, banyak sekali yang patut disyukuri pada Idul Adha tahun ini. Semoga Allah menerima kurban-kurban kami dan semoga tahun depan bisa berkurban lagi bersama keluarga.

0 Komentar